Pak Tono, Sang Local Hero Penjaga Habitat Satwa Laut di Pulau Cempedak

14 Agu 2023
Ria Utari

Pak Tono, Sang Local Hero Penjaga Habitat Satwa Laut di Pulau Cempedak

oleh | Agu 14, 2023

Tahukah kalian bahwa banyak sekali orang-orang hebat yang berjuang untuk kelestarian alam di tempat dia tinggal? Nah, salah satunya adalah Pak Hartono. Bisa dibilang, beliau ini adalah local hero bagi penggerak peduli lingkungan di tempatnya tinggal, yaitu di Pulau Cempedak. Di mana tuh? Kalian pasti kepo. Pulau Cempedak ini berjarak 53,9 km dari kota kecil Kendawangan yang terletak di bagian selatan Kalimantan Barat. Dengan perahu motor kecil, Pulau Cempedak bisa ditempuh dalam waktu 50 menit-1 jam. Penghuninya nggak banyak Sob, hanya 125 KK dengan total sekitar 300-an orang. 

Pulau Cempedak ini salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Ketapang, Kalbar. Andalannya adalah keindahan alamnya yang ciamik banget nih. Pasirnya putih, air lautnya biru dan jernih, dan kerennya lagi, pulau ini sering dilintasi satwa-satwa laut seperti dugong, lumba-lumba, pesut, bahkan sampai paus. Banyak wisatawan ke Pulau Cempedak untuk berenang, menyelam, snorkling, dan memancing. Buat penggemar seafood, Pulau Cempedak surganya. Ikan-ikannya masih fresh, belum lagi bisa menyantap kepiting dan lobster yang seger dan yummy banget.

Keindahan alam laut ini nggak Cuma bisa ditemui di Pulau Cempedak. Ada juga pulau-pulau lainnya di sekitarnya. Pulau Sawi, Pulau Bawal dan beberapa lainnya. Semuanya indah-indah dan satwa-satwa laut yang jarang banget terlihat, seperti dugong dan kawan-kawannya itu, sering mampir di perairan situ. Ternyata ada penyebabnya kenapa mereka suka mampir. Di Pulau Cempedak dan sekitarnya, masih banyak ditemukan habitat lamun, ini tuh semacam rumput laut yang menjadi rumah ekosistem bagi banyak satwa laut. Sayangnya, kata Pak Tono, keberadaan lamun mulai menyusut nih Sob.

Nah, Pak Tono, yang tahun ini berusia 40 tahun, kemudian mengajak temen-temennya sesama nelayan untuk mulai menjaga alam laut nih. Kebetulan beliau ini juga Ketua RT, jadi sosok kepemimpinan beliau ngaruh banget untuk menggerakkan teman-temannya. Lantas, beliau juga dipercaya menjadi ketua Pokdarwis Cempedak Jaya Ketapang yang terbentuk pada tahun 2020. Pokdarwis adalah Kelompok Sadar Wisata, yaitu komunitas masyarakat yang bekerja untuk meningkatkan pariwisata di daerahnya. Di Pulau Cempedak, komunitas ini terdiri dari para nelayan yang menjalankan pemanduan wisata bagi para turis. Komunitas ini awal mulanya terbentuk atas inisiasi Yayasan WeBe Konservasi Ketapang, mitra dari YIARI, yang bertugas untuk memantau dugong dan habitat satwa-satwa laut yang dilindungi dan terancam punah, yang masih banyak ditemukan di sekitar perairan Pulau Cempedak dan sekitarnya. Sejak itu, Pokdarwis Cempedak Jaya hingga sekarang menjalankan kegiatan pengembangan ekowisata, yang mendorong pariwisata yang mendukung kelestarian habitat satwa laut dan ekosistemnya, dengan cara patroli pemantauan dan memandu turis dengan memberikan edukasi dan penyadartahuan pada masyarakat turis untuk turut mendukung habitat dan satwa laut. 

Potret Pak Hartono di Pulau Cempedak (Rendi Afandi | YIARI)

Pasti kalian bertanya-tanya, apa yang mendorong Pak Tono ini segitu banget aktifnya berkegiatan menjaga alam. Pak Tono, yang memiliki 3 anak ini, sangat prihatin akan masa depan pulaunya. “Kondisi pasir di pulau Cempedak dan pulau-pulau sekitarnya mulai berkurang dibandingkan dulu saat saya kecil. Begitu pula dengan keberadaan lamun yang menjadi ekosistem bagi dugong dan satwa-satwa laut, yang mulai banyak berkurang. Tantangan lainnya adalah keberadaan sampah plastik. Kami belum menemukan solusi bagaimana mengurangi dan mengolah sampah-sampah plastik yang ada di pulau dan laut. Inilah yang menurut saya tantangan terbesar, yaitu mengubah kebiasaan masyarakat di pulau kami untuk meminimalisir penggunaan plastik,” ujarnya. 

Untuk mendorong kepedulian masyarakat, Pak Tono juga prihatin dengan kondisi pendidikan di pulau itu. “Saya merasa bahwa tantangan terbesar di pulau ini adalah mendidik generasi muda untuk lebih sadar lingkungan. Kondisi pendidikan di sini juga sangat minim. Untuk menyekolahkan anak setelah lulus SD, kami harus mencari sekolah di pulau Kalimantan. Dengan ketiadaan sekolah setingkat SMP ke atas, kami harus mendidik anak-anak di sini untuk menjaga lingkungan yang makin menurun kualitasnya,” kata beliau.

Untuk itulah, ia melihat bahwa melalui Pokdarwis, ia berupaya menjadikan komunitas Pokdarwis ini bisa membantu perekonomian masyarakat, sehingga mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya dan juga makin tercerahkan akan pemahaman menjaga lingkungan. Nah, kegiatannya apa aja sih Pokdarwis ini. Menurut beliau, kegiatannya saat ini masih terbatas menjemput turis dari Pulau Kalimantan di Kendawangan, kemudian membawa mereka berkeliling pulau-pulau sambil menjelaskan kekayaan alam di Pulau Cempedak dan sekitarnya, kemudian memasakkan kuliner laut bagi mereka. Tangkapan laut terbesar yang populer buat turis adalah lobster, ikan, dan kepiting. 

Di luar kegiatan pariwisata, Pokdarwis ini melakukan patroli di laut dua hari sekali, dengan perahu berisikan 3 orang. Total anggota Pokdarwis ada 23 orang, yang aktif patroli ada 18 orang. Dalam melakukan patroli, mereka mendata apakah ada kemunculan dugong, pesut, lumba-lumba, atau paus dan juga mendata temuan kematian satwa-satwa laut yang langka itu. Kelompok ini juga menghimbau masyarakat untuk menjaga keberadaan dugong dan mengubah kebiasaan lama masyarakat yang dulu masih suka mengonsumsi dugong. Sebelum Pokdarwis terbentuk, masih sering terjadi kematian dugong, bisa 3-4 ekor kematian di setiap awal dan akhir tahun. Kemudian pada tahun 2019-2020, tercatat 1 kali kematian dugong, dan tahun 2020 hingga sekarang, tercatat 0 kematian. 

Usaha keras Pak Tono ternyata berhasil mengantarkan beliau mendapatkan penghargaan, 1st Runner Up Local Heroes di International Ocean Award 2021. Kemudian Pokdarwis Cempedak Jaya berhasil masuk menjadi salah satu dari 23 finalis Ocean Award 2021. Ia berharap, dengan penghargaan ini, masyarakat makin termotivasi untuk menjaga alam di pulau, sehingga generasi muda masih bisa merasakan kembali bulan-bulan di mana para satwa laut itu hadir. Bulan-bulan seperti Agustus dan April, ketika musim berganti, sering kali mereka menemukan keberadaan dolphin, paus pemburu, pesut, yang melintasi perairan. Semoga anak cucu kita nanti masih bisa melihat keindahan ini ya Sob.

Dewi Ria Utari 

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait