Konservasi Edelweiss Jawa: Upaya Menjaga Peran Ekologi Tumbuhan Langka di Indonesia

5 Jul 2024
Admin YIARI

Konservasi Edelweiss Jawa: Upaya Menjaga Peran Ekologi Tumbuhan Langka di Indonesia

oleh | Jul 5, 2024

Halo sobat #KonservasYIARI!

Siapa di antara sobat yang pernah melihat tumbuhan edelweiss dijadikan buah tangan untuk orang tersayang?

Atau, justru pernah menerimanya?

Kemampuan bertahan hidup edelweiss yang lama membuat tumbuhan ini kerap disebut sebagai bunga abadi. Oleh karena itu tak jarang edelweiss juga disebut sebagai simbol cinta sejati, kekuatan, dan keberanian.

Meskipun edelweiss dikenal sebagai bunga abadi karena kemampuannya bertahan hidup yang lama, perlu diingat tumbuhan ini sangat langka dan memetiknya secara liar tidak dibenarkan, lho.

Yuk, bersama-sama mengenal seputar edelweiss jawa!

Karakteristik dan Simbolisme Edelweiss Jawa

Edelweiss jawa di Indonesia memiliki nama latin Anaphalis javanica. Tumbuhan ini terkenal karena kemampuannya bertahan hidup di lingkungan ekstrem dan dikenal sebagai bunga abadi karena tidak mudah layu, bahkan setelah dipetik.

Menjadi tumbuhan endemik, edelweiss tumbuh di ketinggian sekitar 2000 sampai 3000 mdpl. Tumbuhan ini memiliki ciri batang berwarna putih kusam, mahkota bunga putih kecoklatan, dan terdapat warna oranye kekuningan pada kepala bunganya.

Lebih lanjut, berikut karakteristik edelweiss jawa:

  • Bentuk bunga: terdiri dari banyak kelopak yang membentuk corong terbuka, dengan bagian tonjolan bernuansa kuning oranye pada tengah bunga.
  • Kelopak bunga: bunga edelweiss memiliki warna putih yang khas pada kelopaknya. Kelopak edelweiss nampak tebal dan seperti serutan kapas atau bulu halus. Setiap tangkainya memiliki kurang lebih lima sampai enam kepala bunga.
  • Daun: daun edelweiss berbulu halus dan berwarna putih.
  • Batang: merupakan tumbuhan epifit, sehingga batangnya tidak membesar.

Keberadaan edelweiss juga kerap dikaitkan dengan beberapa simbol loh, seperti:

  • Simbol ketahanan: dikaitkan dengan simbol semangat dan daya tahan kuat. Ini dikarenakan kemampuan edelweiss menghadapi cuaca dan usianya yang panjang.
  • Simbol cinta abadi: usia hidup edelweiss yang panjang dipercaya menjadi simbol kasih sayang dan cinta abadi.
  • Penjaga tempat suci: di beberapa daerah, edelweiss disebut sebagai tumbuhan suci. Keberadaannya digunakan untuk penjagaan tempat suci atau tempat peribadatan.

Persebaran dan Habitat Edelweiss Jawa

Edelweiss jawa secara alami tersebar di kawasan pegunungan tinggi di pulau Jawa, Indonesia. Mereka umumnya ditemukan pada ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut, terutama di gunung-gunung seperti gunung Gede, gunung Pangrango, gunung Merbabu, dan gunung Semeru.

Bunga ini juga ada di beberapa kawasan pegunungan lain di Nusantara, seperti di Sumatera dan Bali, namun varietas yang tumbuh di Jawa lebih dikenal karena keunikan dan popularitasnya.

Untuk habitat, edelweiss jawa tumbuh di habitat alpine dan sub-alpine, ditandai dengan suhu rendah, curah hujan tinggi, serta angin kencang. 

Tumbuhan ini biasanya ditemukan di padang rumput alpine terbuka atau di celah-celah bebatuan, di mana kompetisi dengan vegetasi lain relatif rendah. Tanah di habitat umumnya berpasir dan memiliki drainase baik, yang kondisinya mendukung pertumbuhan bunga ini karena tidak memerlukan banyak nutrisi.

Peran Ekologi Edelweiss Jawa

Berikut peran ekologi edelweiss yang penting bagi sekitarnya:

  • Mencegah erosi: akar edelweiss jawa yang dapat menembus jauh ke tanah, membuatnya berfungsi sebagai penahan tanah pegunungan dari erosi akibat air hujan.
  • Menghalau udara dingin: berdasarkan buku Ensiklopedia Adaptasi di Alam Raya yang ditulis Ajeng Wind, bulu tebal edelweiss dapat menghalau udara dingin di pegunungan.
  • Habitat bagi beberapa hewan: keberadaan edelweiss jawa yang tumbuh bergerombol juga menjadikannya sebagai habitat bagi beberapa organisme, termasuk burung, reptil, dan kupu-kupu.
  • Sumber makanan serangga: ketersediaan sumber pakan oleh edelweiss sangat disukai beberapa serangga, terutama serangga pencari serbuk sari dan nektar, di antaranya tawon, kuku-kupu, lalat.
  • Akar yang bersimbiosis mutualisme dengan jamur: akar dari edelweiss bersimbiosis mutualisme dengan jamur mikoriza. Simbiosis ini bertujuan untuk mempertahankan hidup di tanah tandus pegunungan.
  • Tempat hidup bagi lumut: edelweiss jawa punya batang bercelah dengan lapisan kulit yang kasar dan mengandung banyak air, sehingga menjadi tempat hidup bagi beberapa jenis lumut.

Ancaman terhadap Populasi Edelweiss Jawa

Sayangnya, populasi edelweiss jawa mengalami penurunan setiap tahun, membuatnya terancam punah.

Populasi yang semakin langka ini menyebabkan edelweiss jawa masuk dalam red list IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan kategori terancam pada tahun 2008, dan kini statusnya menurun menjadi critically endangered (terancam kritis).

Namun, tidak semua orang memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya menjaga edelweiss jawa. Hal ini mengakibatkan beberapa kasus penyalahgunaan dan perusakan lahan edelweiss.

Berikut beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia akibat keserakahan oknum:

  1. Penjarahan Edelweiss di Dieng-Wonosobo

Pada September 2004, warga Dieng-Wonosobo melaporkan adanya penjarahan edelweiss di daerah tersebut. Para penjarah biasanya adalah pencari kayu atau penanam pohon cemara yang sekaligus memetik edelweiss untuk dijual sebagai souvenir.

  1. Rusaknya lahan edelweiss oleh grup motor trail

Pada Mei 2023, edelweiss rawa yang juga langka, mengalami kerusakan di kawasan wisata Ranca Upas akibat aktivitas sekelompok motor trail. Kejadian ini menjadi viral setelah Supriatna, seorang pembudidaya edelweiss, merekam kondisi lahan yang rusak dan mengunggahnya ke media sosial.

Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan masih ada kelompok yang memiliki kesadaran rendah terhadap perlindungan edelweiss, yang tentu menjadi ancaman bagi kelangsungan populasi edelweiss.

Upaya Konservasi Edelweiss Jawa

Setelah mengetahui ancaman populasi edelweiss jawa dan seberapa penting keberadaannya bagi ekosistem, tentu terdapat upaya konservasi yang dilakukan untuk menjaga populasi edelweiss jawa.

Dari situ kemudian muncul pertanyaan, “Jika sudah mulai banyak dibudidayakan, mengapa status edelweiss jawa masih terancam punah?”

Bagaimana tidak, membudidayakan edelweiss bukan hal mudah. Menurut sebuah jurnal, edelweiss membutuhkan waktu 13 tahun untuk mencapai tinggi 20 cm (Afiari, 2023). Ini jelas bukan waktu yang singkat.

Keberhasilan budidaya edelweiss juga tergantung pada lokasi yang berada di ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Selain itu, edelweiss biasanya baru akan mekar setelah musim penghujan, yakni antara bulan April sampai September.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pada tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menciptakan program Desa Wisata Edelweiss. Program ini melibatkan masyarakat dari Desa Ngadisari di Kabupaten Probolinggo, dengan Kelompok Tani Kembang Tana Layu, dan Desa Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, dengan Kelompok Tani Hyang Hulun.

Program bertujuan untuk melestarikan edelweiss di Indonesia dan meningkatkan kesadaran serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga tanaman ini. Dengan adanya kerjasama berbagai pihak dan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan upaya konservasi edelweiss jawa dapat semakin berhasil.

Pentingnya Kesadaran Masyarakat terkait Edelweiss Jawa

Nah, melalui informasi di atas, tentu yang diperlukan saat ini adalah kesadaran masyarakat terhadap aturan perlindungan edelweiss jawa dan dampak yang diperoleh apabila menyalahgunakan dalam pemanfaatannya.

Yuk, kita simak bersama penjelasannya!

  1. Edelweiss jawa turut menjadi perhatian pemerintah

Pemerintah secara tegas melindungi edelweiss jawa dan pemanfaatannya. Hal tersebut, diperkuat dengan Undang-Undang no. 5 Tahun 1990 pasal 33 ayat 1 dan 2 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem. Siapapun yang melanggar UU tersebut akan dikenai hukuman 10 tahun atau denda hingga ratusan juta.

  1. Muatan peraturan menteri LHK

Larangan untuk memetik bunga edelweiss terdapat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.20/ Menlhk/ Setjen/ Kum.1/ 6/ 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

  1. Bersama menjaga kebermanfaatan edelweiss

Melihat banyaknya manfaat edelweiss jawa bagi Ekosistem, serta tantangannya dalam upaya konservasi, masyarakat tidak diperbolehkan mengambil atau memetik tumbuhan ini secara liar. Tentu, edelweiss akan lebih bermanfaat bertumbuh di alam, dibandingkan harus mengering setelah dibawa pulang hanya untuk seremoni simbol kasih sayang semata.

Memetik liar dan memberikan edelweiss jawa bagi orang tersayang sudah tidak lagi relevan, ketinggalan zaman. Penjagaan edelweiss jawa di habitat aslinya tetap harus digaungkan, dengan harapan makin banyak individu yang tercerahkan dan punya kesadaran penuh untuk menjaga lingkungan, dibarengi dengan upaya konservasi.

Langkah lainnya, tentu saja edukasi dan stop pemetikan liar. Percayalah keabadian cinta bisa diraih tanpa harus merusak semesta. Yuk, bersama lindungi edelweiss jawa!

Referensi:

https://jurnal.uns.ac.id/prosbi/article/download/69278/pdf
http://digilib.uinsa.ac.id/2165/6/Bab%203.pdfhttp://repositori.unsil.ac.id/8889/
http://repositori.unsil.ac.id/8889/
https://lindungihutan.com/blog/mengenal-bunga-edelweis/
https://www.mongabay.co.id/2021/08/02/upaya-mereka-jaga-kelestarian-bunga-edelweis/
https://www.gramedia.com/best-seller/bunga-edelweis/

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

7
Jul 15, 2024

Flora dan Fauna di Indonesia: Definisi, Jenis, Karakteristik

Hai, sobat #KonservasYIARI! Jika seseorang bertanya, "Apa saja kekayaan alam berupa flora dan fauna di Indonesia?" banyak dari kita akan langsung menyebut Rafflesia arnoldii, anggrek hitam, komodo, dan badak jawa. Nama-nama ini mungkin sudah tidak asing lagi, namun...

7
Jul 4, 2024

Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!

Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan? Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera. Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan...

7
Jun 26, 2024

Hutan Mangrove, Rumah bagi Biota dan Fauna yang Mesti Dilindungi

Fungsi hutan mangrove ternyata lebih banyak daripada yang kita duga, fungsi dan perannya tidak hanya melulu menahan laju abrasi pantai. Sebab, berbagai jenis biota dan fauna menghuni kawasan ekosistem satu ini, memberi manfaat bagi lingkungan maupun untuk...

Artikel Terkait