Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!

4 Jul 2024
Admin YIARI

Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!

oleh | Jul 4, 2024

Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan?

Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera.

Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan kesejahteraan hewan atau ‘five freedoms’, adalah suatu kondisi di mana kebutuhan alami dan esensial hewan terpenuhi secara memadai.

Konsep ini pertama kali diusulkan oleh John Webster pada tahun 1994 dan kini telah menjadi standar global minimal untuk kesejahteraan hewan.

Prinsip kesejahteraan satwa sangat penting dalam konservasi ex-situ, yaitu penanganan satwa liar yang tidak berada dalam habitat asli mereka. Prinsip ini menjadi acuan utama saat berinteraksi dengan hewan serta dalam pembuatan habitat buatan seperti kandang.

Kebanyakan, prinsip ini diterapkan oleh lembaga konservasi untuk tujuan umum seperti di kebun binatang, serta oleh lembaga spesialis seperti Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang fokus pada rehabilitasi primata seperti kukang, orangutan, dan berbagai jenis makaka.

Di YIARI, prinsip kesejahteraan satwa dijadikan sebagai dasar dalam proses rehabilitasi hingga pelepasliaran kembali ke alam liar.

Lalu, apa saja sebenarnya kelima prinsip kesejahteraan satwa? Dan bagaimana penerapannya di YIARI?

Untuk menjawab itu, kami berkesempatan berbincang dengan drh. Nur Purba Priambada, salah satu Dokter Hewan di YIARI. Yuk, simak penjelasannya!

1. Bebas dari lapar dan haus 

Inilah prinsip pertama kesejahteraan satwa! Prinsip ini melibatkan penyediaan pakan dan air minum yang memadai, karena kedua hal ini merupakan kebutuhan dasar semua makhluk hidup, termasuk manusia, Sob!

Penting untuk memastikan jenis pakan yang diberikan sesuai dengan makanan alami dari masing-masing spesies, lengkap dengan nutrisi yang seimbang. Akses ke pakan dan air juga harus mudah, dengan penempatan yang disesuaikan dengan perilaku alami satwa.

Sebagai contoh, YIARI menyiapkan pakan untuk kukang dengan berbagai improvisasi agar pakan tersebut setidaknya mendekati makanan alami mereka, termasuk pemberian getah (meskipun getahnya instan), serangga, nektar, hingga sayuran sebagai pengganti buah hutan yang kaya serat.

Selain itu, ada juga persiapan enrichment untuk kukang, seperti madu yang dibungkus dengan daun, yang dilakukan oleh tim Animal Management di YIARI.

Persiapan penyediaan enrichment kukang, madu yang dibungkus dengan daun (Animal Management | YIARI) 

Sementara itu, untuk makaka, YIARI menyediakan buah dan sayuran dengan kandungan nutrisi yang seimbang. Semua ini adalah hasil dari kajian mendalam bersama para ahli nutrisi, bertujuan untuk memastikan kesejahteraan satwa tersebut terpenuhi dengan baik.

Pakan makaka disesuaikan mendekati pakan alaminya (Animal Management | YIARI)

2. Bebas dari rasa tidak nyaman 

Prinsip selanjutnya adalah memastikan satwa bebas dari rasa tidak nyaman. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan satwa terhadap tempat tinggal atau naungan atau sarang yang sesuai dengan habitat aslinya.

Selain itu, Sobat harus memerhatikan faktor lingkungan yang meliputi kelembapan, ventilasi, pencahayaan, dan temperatur. Tentu faktor lingkungan harus sesuai dengan kondisi alami habitat satwa tersebut. 

Penggunaan lampu cahaya merah untuk mengurangi intensitas cahaya tinggi di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Denny Setiawan | YIARI)

Dalam prinsip kedua ini, YIARI menyesuaikan intensitas cahaya pada kandang kukang, mengingat kukang adalah satwa nokturnal. Selain itu, YIARI menggunakan cahaya merah, yang memiliki tingkat intensitas cahaya rendah saat melakukan pengambilan gambar satwa. Hal ini dilakukan agar satwa tetap merasa aman dan nyaman. 

3. Bebas dari sakit, luka, dan penyakit

Prinsip ketiga ini menekankan satwa tidak boleh terpapar pada stimulasi yang menyakitkan seperti pemukulan, penyiksaan, atau pengikatan yang terlalu kencang. Ingat, Sob, satwa juga memiliki perasaan dan mampu merasakan sakit!

Lebih lanjut, penting untuk memastikan satwa bebas dari luka, baik luka fisik maupun internal, dan terhindar dari sumber penyakit apapun. Dalam kondisi kandang atau lingkungan urban, penyakit dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pakan yang tidak segar atau sudah busuk.

Interaksi dengan manusia juga dapat menjadi sumber penyakit, karena manusia dan satwa dapat saling menularkan penyakit, yang dikenal sebagai zoonosis.

Di YIARI, penerapan prinsip ini diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala pada primata yang sedang menjalani rehabilitasi.

Pengecekan kesehatan secara berkala terhadap kukang yang dilakukan oleh Dokter Hewan di YIARI (Reza Septian | YIARI)

4. Bebas mengekspresikan perilaku alamiah

Prinsip keempat menekankan pentingnya memungkinkan satwa untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Ini termasuk menyediakan atau menambahkan fasilitas di kandang yang mendukung pengayaan kandang, atau yang sering disebut enrichment.

Contoh dari penerapan ini adalah penyediaan enrichment harian untuk makaka, seperti rumah jamur yang memungkinkan mereka bersembunyi di kandang rehabilitasi. Sementara itu, untuk kukang, enrichment disediakan secara bulanan dengan lebih beragam, termasuk batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang-lubang pohon yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi atau bermain.

Penyediaan enrichment di kandang makaka berupa rumah jamur (Animal Management | YIARI)
Penyediaan enrichment lorong bambu di kandang kukang  (Reza Septian | YIARI)

Selain itu, YIARI juga mengelola beberapa pulau khusus yang diperuntukkan untuk rehabilitasi orangutan. Pulau-pulau tersebut dijadikan tempat agar orangutan dapat merasakan kehidupan di alam liar dan bebas mengekspresikan perilaku alami selama masa rehabilitasi. Ini semacam simulasi kehidupan di habitat asli mereka, Sob!

Beberapa pulau yang digunakan YIARI untuk rehabilitasi orangutan termasuk Pulau Pak Ali, Pulau Setrum, Pulau Monyet, dan Pulau Rangkong.

Orangutan di pulau yang digunakan untuk rehabilitasi orangutan (Heribertus Suciadi | YIARI)

Penting juga untuk menyediakan kesempatan bereproduksi dan bersosialisasi, karena seperti manusia, satwa juga memiliki kebutuhan sosial. Di YIARI, kukang dikelompokkan dengan individu lain untuk merangsang perilaku sosial mereka, yang dapat membantu mengurangi stres yang mungkin mereka alami sebelumnya.

Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu aktivitas satwa. Ada satwa yang aktif di siang hari (diurnal) dan yang aktif di malam hari (nokturnal). Penting untuk tidak mengganggu satwa di luar waktu aktif mereka, seperti memberi makan pada waktu yang salah.

Sama seperti manusia, Sobat pasti akan merasa terganggu jika dibangunkan dari istirahat, bukan?

Baca juga : Artikel Tentang Enrichment Kukang di Kandang Rehabilitasi YIARI

Baca juga : Artikel Tentang Enrichment MEP di Kandang Rehabilitasi YIARI

5. Bebas dari rasa takut dan tertekan 

Nah kita tiba di prinsip yang terakhir!

Prinsip terakhir ini sebenarnya merupakan prinsip paling sulit untuk dipenuhi, yaitu bebas dari rasa takut dan tertekan. Prinsip ini sulit dilakukan pada satwa liar dan belum terdomestikasi. 

Pada prinsip kelima, yang menjadi sumber ketakutan dari satwa justru datang dari pemelihara atau manusia. Bagi satwa, manusia adalah objek asing yang bisa menjadi ancaman. Tak hanya itu suara  bising kendaraan juga bisa menyebabkan satwa tertekan. 

Di YIARI, prinsip kelima ini dapat dilakukan dengan berusaha mengurangi kontak langsung antara manusia dengan satwa. 

Oh iya, Sob! Karena YIARI adalah lembaga konservasi khusus, akses ke kandang rehabilitasi sangat terbatas. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan langsung, seperti dokter hewan dan perawat satwa, yang diizinkan masuk ke area kandang rehabilitasi di YIARI. Bahkan mereka pun harus menjalani berbagai tes kesehatan yang ketat sebelum diperbolehkan masuk, lho!

Dokter hewan dan perawat satwa sedang bertugas di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Reza Septian | YIARI)

Pastinya, dokter hewan memiliki tugas utama untuk memeriksa kesehatan satwa dan mengamati perilaku mereka. Sementara itu, perawat satwa mendukung dokter dengan memberikan pakan, menambahkan enrichment, dan juga melakukan observasi perilaku satwa.

Bagaimana, Sob? Semoga Sobat selalu ingat akan lima prinsip kesejahteraan satwa dan menjadi lebih bijak dalam berinteraksi dengan mereka, ya👍

Memang menjadi dilema, sebab pada umumnya satwa liar hidup bebas di alam tanpa interaksi dengan manusia. Jadi, sebaiknya Sobat tidak memelihara satwa liar secara pribadi tanpa alasan yang jelas!

Elif Ivana Hendastari

Referensi : 

  1. Puhun SPO, Sulastri S, Widyastuti. 2017. Pengelolaan kesejahteraan satwa (animal welfare) rusa timor (Rusa timorensis) di Oilsonvai Kupang. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan. 1(4):18.29. 
  2. Teguh IG, Masy’ud B, Rachmawati E. 2010. Kajian pengelolaan kesejahteraan satwa di Taman Wisata Alam  Punti Kayu Palembang Sumatera Selatan. Media Konservasi. 15(1):26-30.
  3. https://animalwelfare.id/mengenal-5-domain-dalam-penilaian-kesejahteraan-hewan/
  4. https://distanpangan.baliprov.go.id/kesejahteraan-hewan-animal-welfare/ 
  5. https://www.idntimes.com/science/discovery/huda-nur-prasetyo/prinsip-kesejahteraan-satwa-atau-animal-welfare-c1c2?page=all 
  6. https://skhb.ipb.ac.id/prinsip-prinsip-kesejahteraan-hewan-animal-welfare-di-dalam-penelitian-biomedis/  
  7. Feature image : YIARI | Design by Elif Ivana Hendastari

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

7
Jul 15, 2024

Flora dan Fauna di Indonesia: Definisi, Jenis, Karakteristik

Hai, sobat #KonservasYIARI! Jika seseorang bertanya, "Apa saja kekayaan alam berupa flora dan fauna di Indonesia?" banyak dari kita akan langsung menyebut Rafflesia arnoldii, anggrek hitam, komodo, dan badak jawa. Nama-nama ini mungkin sudah tidak asing lagi, namun...

7
Jun 26, 2024

Hutan Mangrove, Rumah bagi Biota dan Fauna yang Mesti Dilindungi

Fungsi hutan mangrove ternyata lebih banyak daripada yang kita duga, fungsi dan perannya tidak hanya melulu menahan laju abrasi pantai. Sebab, berbagai jenis biota dan fauna menghuni kawasan ekosistem satu ini, memberi manfaat bagi lingkungan maupun untuk...

Artikel Terkait