Mengantar Pulang Lima Orangutan Kalimantan Kembali ke Hutan

4 Agu 2022
Heribertus Suciadi

Mengantar Pulang Lima Orangutan Kalimantan Kembali ke Hutan

oleh | Agu 4, 2022

Pernah ngebayangin nggak kalian mengantarkan pulang orangutan kembali ke habitatnya? Mau tahu rasanya? Tentu luar biasa seru dan bahagianya, SobatIAR. Pelepasliaran – istilah yang biasa kami pakai untuk nganterin orangutan kembali ke hutan – merupakan pengalaman yang keren yang kali ini mau kami ceritain! Pada 18 Juni 2022 lalu, jalani bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), kami melepasliarkan lima individu orangutan, di kawasan TNBBBR. Kelima orangutan ini terdiri dari satu orangutan betina bernama Joyce dan empat orangutan jantan bernama Otan, Kotap, Anjas, dan Cemong. Kelimanya merupakan orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi dan kemudian telah menjalani proses rehabilitasi di tempat kami di Ketapang, Kalimantan Barat.

Otan yang saat ini berusia delapan tahun, dulunya ditemukan oleh pekerja sawit di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Orangutan ini kemudian diserahkan ke BKSDA Kalbar dan dibawa ke pusat penyelamatan dan konservasi orangutan Yayasan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang pada 18 September 2015. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama tujuh tahun, Otan akhirnya siap kembali ke habitat aslinya.

Joyce bergelantungan pasca dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)

Untuk orangutan Kotap, ia sempat jadi korban pemeliharaan ilegal oleh warga Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kotap dipelihara selama tiga tahun dan ditempatkan di kandang kayu kecil di depan rumah. Kotap kemudian diselamatkan tim gabungan BKSDA Kalbar dan YIARI pada 12 April 2017. Saat ini Kotap berusia sembilan tahun dan berdasarkan hasil pemeriksaan, Kotap sudah memenuhi persyaratan untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Sementara Cemong, dulunya dipelihara oleh warga di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat sebelum diselamatkan oleh tim gabungan BKSDA Kalbar dan YIARI pada 26 Januari 2011. Awalnya, Cemong ditemukan oleh warga di dalam area pembukaan lahan untuk kebun sawit dalam keadaan terluka dan induknya ditemukan sudah mati. Untuk mengembalikan sifat alami dan kemampuanya bertahan hidup sebagai orangutan, Cemong harus menjalani masa rehabilitasi selama sebelas tahun sebelum akhirnya bisa dilepasliarkan.

Sedangkan Anjas, berasal dari Kabupaten Kubu Raya dan dulunya dipelihara oleh seorang pedagang yang menemukannya di hutan tanpa induk. Anjas dipelihara selama tiga tahun sebelum akhirnya Anjas diserahkan secara sukarela kepada BKSDA Kalbar dan YIARI pada 6 Februari 2014. Setelah menjali rehabilitasi selama delapan tahun, kini Anjas yang sudah berusia 12 tahun ini siap untuk dilepasliarkan. 

Tim gabungan menjaga kandang transport orangutan ketika menyeberang sungai (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Joyce juga pernah dipelihara warga Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Pemeliharanya mengaku diberi orangutan sebagai tukar uang bensin oleh pengendara motor yang tidak dia kenal. Gila kan Sob?! Karena mengetahui bahwa memelihara satwa liar merupakan perbuatan melawan hukum, dia menyerahkan Joyce ke BKSDA Kalbar dan YIARI pada bulan Januari 2013. Saat ini Joyce yang sudah berusia sebelas tahun dirasa sudah siap untuk kembali ke habitatnya. 

Buat kalian yang mikir, kenapa sih orangutan perlu direhabilitasi abis dipelihara manusia? Sini kami jelasin. Proses rehabilitasi tuh sulit lho dan bisa berlangsung lama tergantung kemampuan masing-masing individu. Bahkan bisa berlangsung sampai belasan tahun. Rehabilitasi diperlukan untuk mengembalikan sifat dan kemampuan alami orangutan untuk bertahan hidup di habitat aslinya. 

Kawasan TNBBBR jadi lokasi the best buat mereka pulang, karena berdasarkan hasil kajian yang udah kami lakukan, kesesuaian habitatnya tinggi, dan jenis-jenis vegetasi penyusun hutan di TNBBBR mempunyai kecukupan baik dalam jumlah maupun keragaman jenis sebagai pakan orangutan.

Nah, nganterin kawan-kawan orangutan kita ini juga luar biasa banget jadi cerita lho Sobat. Untuk mencapai lokasi pelepasliaran ini, tim bersama orangutan harus menempuh perjalanan darat sejauh 700 kilometer, melewati enam kabupaten yaitu Ketapang, Kayong Utara, Sanggau, Sekadau, Sintang dan Melawi, lalu dilanjutkan dengan perahu dan berjalan kaki. Total makan waktu tiga hari tuh untuk sampai ke TNBBBR dari Ketapang. 

Kandang transport orangutan diangkut beriring-iringan (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta tentunya happy banget dengan kegiatan ini dan ngajakin kita semua untuk mendukung upaya-upaya konservasi. “Apresiasi saya sampaikan kepada seluruh pihak baik itu instansi maupun lembaga non pemerintah serta masyarakat yang terlibat dalam upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan ini. Namun begitu kita masih perlu inovasi-inovasi program jangka panjang yang lebih efektif dalam upaya konservasi orangutan,” ujar Pak Sadtata.Nah kalau SobatIAR lihat bagaimana kelima orangutan yang dilepasliarkan ini rata-rata menjalani rehabilitasi 7-11 tahun sebelum bisa diantar pulang, sebenarnya masih ada proses selanjutnya lho. “Setelah pelepasliaran, tim monitoring kami masih harus mengikuti perkembangan orangutan setiap hari dan memastikan orangutan bisa bertahan hidup di alam. Untuk itu, kami dibantu masyarakat lokal dari area penyangga taman nasional di wilayah sungai Mentatai. Selain tim monitoring ada juga dokter hewan yang bertugas di lokasi pelepasan untuk memastikan kondisi orangutan ini sehat dan prinsip kesejahteraan terpenuhi. Upaya ini membutuhkan tenaga dan waktu yang sangat panjang demi memastikan bahwa orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi ini kembali mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup di habitat aslinya,” ujar Argitoe Ranting, Kepala Program YIARI.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait