Mengenal Program Holistik YIARI dalam Melindungi Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung

27 Sep 2023
Admin YIARI

Mengenal Program Holistik YIARI dalam Melindungi Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung

oleh | Sep 27, 2023

Melindungi kawasan hutan sebagai area habitat satwa liar sekaligus sumber masa depan ekosistem alam, merupakan salah satu fokus kegiatan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), lembaga yang berdiri di Indonesia sejak tahun 2008 dengan penyandang dana utama dari International Animal Rescue (IAR) yang berpusat di Inggris. Salah satu program YIARI adalah bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung untuk berkegiatan di Hutan Lindung (HL) Batutegi yang dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi.

Di HL Batutegi inilah, YIARI telah berkegiatan sejak tahun 2008. Di tahun-tahun awal, kegiatan YIARI masih fokus pada kegiatan yang berhubungan dengan satwa dan habitatnya, di antaranya pada perlindungan dan patroli kawasan serta pelepasliaran satwa liar hasil rehabilitasi YIARI . Namun pada perkembangannya, kerja sama dengan KPH Batutegi mulai berkembang seiring melihat figur kawasan yang berdasarkan SK. 650/Menhut-II/2010, memiliki total luas kawasan sebesar 58.162 hektar, telah berubah menjadi lahan perkebunan dan tersisa ± 17,4 % dari total luas kawasan yang masih alami. 

Landscape Wilayah Hutan Lindung KPH Batutegi (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Upaya mempertahankan kawasan yang masih tersisa ini diperlukan melihat masih ditemukannya keragaman satwa di dalam HL Batutegi di antaranya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), kucing emas (Catopuma temminckii), musang bulan (Paguma larvata), siamang (Symphalangus syndactylus), beruk (Macaca nemestrina), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), simpai (Presbytis melalophos), dan kukang sumatera (Nycticebus coucang). Karena itulah diperlukan pendekatan holistik untuk melindungi kawasan ini dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Mendukung perlindungan dan pengamanan habitat satwa liar kawasan hutan KPH Batutegi
  2. Mendukung upaya pendataan potensi keanekaragaman hayati kawasan hutan KPH Batutegi
  3. Mendukung program pendampingan masyarakat dalam pengelolaan wilayah HKm KPH Batutegi secara optimal sehingga  memberikan manfaat ekonomi maupun ekologis
  4. Mendukung upaya penyadartahuan masyarakat sekitar kawasan tentang fungsi dan manfaat hutan

Untuk itulah pada 15-17 September 2023, YIARI mengundang beberapa perwakilan media nasional yaitu Kompas Cetak/Kompas.id, Tempo.co, Mongabay Indonesia, Suara.com, Lampungpride.com, dan Lampung Post. Para wartawan ini juga berasal dari lembaga-lembaga jurnalisme terhormat di Indonesia, di antaranya Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) dan SIEJ (Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia). 

Di hari pertama, yaitu 15 September, para media diajak untuk mengenal kegiatan pendampingan masyarakat bagi Gapoktan Sumber Makmur. Total anggota Gapoktan Sumber Makmur mencapai 840 petani dari 18 KTH (Kelompok Tani Hutan). Dari kantor program YIARI di Air Naningan, Batutegi, lokasi kegiatan Gapoktan Sumber Makmur ini ditempuh selama 3 jam melalui jalur darat, air, kemudian jalur darat lagi dengan medan yang cukup terjal.

Sesampainya di lokasi, acara dibuka oleh Robithotul Huda selaku Senior Manager Program Resiliensi Habitat YIARI yang mengelola kegiatan di Batutegi. “Kami telah hadir mendampingi petani di kawasan Hutan Lindung Batutegi sejak tahun 2017. Melalui pendampingan, kami mengajarkan cara-cara efektif dalam menerapkan agroforestry. Hal ini dikarenakan banyak petani berpikir bahwa meningkatkan produksi pertanian mereka dengan cara membuka lahan seluas-luasnya. Padahal solusinya bukan itu.

Dengan batasan lahan yang bisa mereka olah menurut UU Perhutanan Sosial yaitu 2 hektar, jika digarap dengan benar dan efektif, hasilnya akan bagus. Untuk pola pendampingan yang kami terapkan adalah melihat terlebih dahulu situasi yang dihadapkan para petani, menanyakan apa harapan mereka, dan dari situ kami masuk pelan-pelan. Dengan cara ini, para petani juga tidak terus menerus tergantung dengan kami,” ujar Robithotul Huda.

Mengunjungi Salah Satu Gapoktan Dampingan YIARI, Gapoktan Sumber Makmur (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Dayat, Ketua Gapoktan Sumber Makmur menyampaikan apresiasi atas kegiatan pendampingan yang telah mereka ikuti selama ini. “Dulu sebelum didampingi YIARI, kami berpikir hanya pada hasil kopi saja. Kini setelah melalui pendampingan, kami jadi mempelajari tanaman-tanaman produksi lainnya yang ternyata sama-sama bagus hasilnya, seperti tanaman kemiri, pala, dan pinang.

Kami berharap semoga seperti nama Gapoktan kami, yaitu Sumber Makmur, pendampingan yang telah kami jalani ini menjadi sumber kemakmuran bagi para anggota kami,” ujar Dayat. Dalam kunjungan ini, para anggota Gapoktan Sumber Makmur mengajak rombongan jurnalis untuk berkeliling melihat fasilitas yang ada sambil bercerita tentang kemampuan yang telah mereka kuasai.

Fasilitas yang ada di antaranya ialah persemaian dan kandang kambing. Bibit yang terdapat pada persemaian menyesuaikan komoditas pilihan petani, di antaranya pala, alpukat, dan pinang. Semai disimpan pada ecopolybag, kantung bibit dari bahan bambu sehingga ramah lingkungan yang juga merupakan hasil produksi mandiri gapoktan ini.

Untuk peternakan, para jurnalis diajak melihat kandang kambing yang ada dirancang khusus ini memiliki sistem yang membuat kandang cenderung lebih higienis dibandingkan kandang kambing biasanya. Lantai kandang dibuat berjarak sehingga kotoran kambing terkumpul otomatis pada bagian bawah kandang. Begitu juga urin kambing yang dialirkan otomatis melalui pipa. Kotoran dan urin ini pun kemudian akan diolah dengan campuran lainnya untuk menjadi pupuk.

Pembekalan yang diberikan oleh YIARI kepada para petani ini dijalankan dengan nama Sekolah Lapang, yang dimentori oleh Eko Sukamto, pakar pertanian organik nasional. Sekolah Lapang ini telah dijalankan selama tiga kali sejak September 2022. “Kami berharap para petani ini bisa menerapkan pertanian alami, di mana pemecahan semua masalah pertanian yang mereka alami itu sebenarnya sudah ada di alam. Misalnya tanaman apa yang bisa mengundang serangga atau binatang-binatang yang bisa membasmi hama pada tanaman kopi, hingga menerapkan satu siklus seperti memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai pupuk bagi tanaman mereka. Menerapkan siklus ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah mereka seperti mahalnya harga pupuk,” ujar Eko Sukamto.

Pada sekolah lapang pertama, para petani ini mulai belajar metode-metode agroforestri yang mampu meningkatkan hasil tani seperti pembuatan pupuk kompos dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).  Kemudian mereka belajar mengembangbiakkan jamur Trichoderma pada sekolah lapang kedua. Trichoderma atau jamur hijau ialah jamur yang berfungsi sebagai fungisida (agen pembunuh jamur) sekaligus dapat bermanfaat sebagai pupuk organik.

Selanjutnya pada sekolah lapang yang ketiga, mereka akan belajar mengambil trichoderma dari alam sehingga bisa membuat indukan trichoderma secara mandiri. Ibu Sriatmiatun, satu satunya wanita peserta sekolah lapang, dengan semangat menjelaskan hasil dan proses pembuatan produk Gapoktan. Produk tersebut di antaranya pupuk kompos atau pupuk padat, POC (Pupuk Organik Cair), MOL (mikroorganisme lokal), pestisida nabati, serta pestisida nabati dua kaki yang dapat membunuh hama dan penyakit. 

Agenda selanjutnya pada 16 September ialah kunjungan ke Stasiun Riset Way Rilau yang merupakan pusat penelitian Hutan Lindung Batutegi. Dari Desa Sumber Makmur, stasiun riset ini dapat ditempuh selama sekitar 2-4 jam, bergantung pada kondisi lingkungan, juga kemampuan fisik masing-masing. Didampingi oleh Kepala UPTD KPH Batutegi, Qadri; Polhut Ahli Madya atau Bapak Kepala Unit Polhut, Ruslan; Apri Supriyanti selaku polisi hutan (polhut), serta tim Resiliensi Habitat lainnya, para jurnalis berdiskusi terkait program RH yang telah dilaksanakan di lokasi Way Rilau ini. Mereka juga melihat langsung praktik penggunaan kamera jebak, juga simulasi penemuan jerat jebakan yang kerap ditemukan ketika melaksanakan patroli hutan.

Melihat kegiatan YIARI di kunjungan ke Stasiun Riset Way Rilau (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Stasiun ini sebenarnya belum launching sepenuhnya, namun nantinya saat diluncurkan secara resmi, maka stasiun ini akan menjadi satu-satunya di Provinsi Lampung. Dengan adanya stasiun ini, kami berharap kegiatan patroli kawasan dan monitoring keanekaragaman hayati menjadi lebih lancar dan sukses dalam mempertahankan keberadaan spesies-spesies yang ada di hutan ini,” ujar Robithotul Huda. 

Sejalan dengan harapannya, Richard Stephen Moore, Advisor Bagi Program YIARI di Jawa Barat dan Provinsi Lampung, menyampaikan bahwa Stasiun Riset Way Rilau bisa menjadi salah satu tahapan untuk mengangkat Batutegi ke wilayah internasional. “Kami berharap stasiun ini bisa menjadi tempat bagi para peneliti dan periset untuk melakukan penelitian di kawasan ini, sehingga bisa memunculkan publikasi-publikasi penting tentang keanekaragamanhayati di Batutegi,” ujar Richard. 

Kepala UPTD KPH Batutegi, Qadri menyampaikan harapannya agar stasiun riset ini dapat membantu mengumpulkan data keanekaragaman hayati untuk kemudian menjadi acuan strategi pengelolaan wilayah KPH. “Semoga stasiun riset ini dapat menjadi sarana prasarana peneliti untuk menggali keanekaragaman hayati di wilayah ini. Kami sangat membutuhkan data keanekaragaman, terutama terkait hewan kunci yang ada di wilayah KPH Batutegi ini. Data tersebut dapat menjadi acuan bagi kami dalam rangka menjaga dan membuat strategi pengelolaan KPH ke depannya. ”

Qadri juga menyampaikan bahwa KPH Batutegi sangat terbantu dengan keadaan YIARI, “Dengan adanya YIARI dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kami merasa terbantu sekali. Rasanya tidak mungkin kami mengerjakan sendiri pengawasan area seluas 58 ribu hektar dengan personil yang terbatas. Terutama dalam upaya pengamanan, patroli, juga pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan, rehabilitasi, juga penyadartahuan terhadap pemuda. Kami merasa beruntung bisa terbantu oleh YIARI, sehingga tahun ini KPH Batutegi mendapatkan predikat KPH efektif tingkat nasional. Salah satu perbedaan yang terlihat ialah perbedaan pola tanam yang diterapkan para petani. Para petani yang tergabung dalam Gapoktan awalnya hanya monokultur menanam kopi, kini perlahan mulai menerapkan pola agroforestri.”

Mengunjungi Taman Baca Jalosi Sanak Negeri dan Melihat Penampilan Tari (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Agenda terakhir kegiatan Media Visit adalah kunjungan ke Taman Baca Jalosi Sanak Negeri yang didirikan oleh Tamar Widadi (32 tahun). Pada Juni 2015, Tamar mulai mengajak anak-anak membaca di rumahnya. Taman baca dampingan YIARI sejak tahun 2019. Kerja sama dan dampingan dari YIARI dimulai dengan edukasi konservasi yang disampaikan melalui permainan, juga lomba mewarnai. “Jalosi berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti lubang angin atau ventilasi, yang kecil namun bermanfaat; sanak memiliki arti anak-anak; negeri memiliki arti negeri kita ini, Indonesia. Jadi harapannya Jalosi Sanak Negeri dapat menjadi sesuatu yang kecil namun bermanfaat untuk anak-anak dalam negeri,” ujar Tamar Widadi. 

Anak-anak yang rutin hadir mengikuti kegiatan berjumlah sekitar 20 – 30 anak. Namun ada pula acara besar tertentu di mana anak-anak yang hadir bisa mencapai 50 bahkan 70 anak. Usia anak-anak yang mengikuti kegiatan di Taman Baca Jalosi bervariasi. Mayoritas anak-anak yang mengikuti kegiatan di taman baca ini berada pada tingkat pendidikan SD kelas 1 sampai kelas 6. Terdapat pula beberapa anak SMP, bahkan beberapa anak yang belum memasuki usia sekolah dengan tingkat TK dan PAUD yang sudah semangat mengikuti kegiatan. Siswa siswi tingkat SMA pun ikut dilibatkan, bukan sebagai peserta melainkan sebagai sukarelawan yang membantu Tamar mengajar anak-anak lainnya sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berkelanjutan.

Kegiatan edukasi konservasi yang dilakukan pada Taman Baca Jalosi ini sangat beragam, kebanyakan disampaikan dengan pendekatan yang santai dengan prinsip belajar dan bermain. Di antaranya dongeng tentang satwa, mewarnai satwa liar seperti owa, nonton bersama film tentang satwa. Taman Baca Jalosi ini juga aktif berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain untuk mengadakan kegiatan pada hari besar peringatan terkait satwa dan lingkungan.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait