Catatan Magang dan Penelitian Dua Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera di Hutan Gambut Kabupaten Ketapang, Kalbar

15 Mei 2024
Admin YIARI

Catatan Magang dan Penelitian Dua Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera di Hutan Gambut Kabupaten Ketapang, Kalbar

oleh | Mei 15, 2024

YIARI membuka banyak peluang magang dan penelitian. Nah, baru-baru ini, tepatnya di akhir tahun 2023 lalu, ada dua mahasiswa Rekayasa Institut Teknologi Sumatera dari Program Studi Rekayasa Kehutanan yang melakukan magang di YIARI untuk melakukan penelitian bersama kami. Masing-masing dari mereka meneliti hal yang berbeda, alhasil pengalaman yang mereka dapatkan juga berbeda. Seperti apa, sih, kisah mereka selama bekerja bersama YIARI? Yuk, simak bersama-sama!

Kisah Magang Irfan Fauzi

Halo, Sobat #KonservasYIARI! 

Nama saya Irfan Fauzi, sebenarnya banyak nama panggilannya, tapi saya lebih suka kalo di panggil Irfan. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di Institut Teknologi Sumatera dengan mengambil Program Studi Rekayasa Kehutanan yang berfokus pada konservasi satwa. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya diwajibkan untuk melakukan penelitian tugas akhir atau skripsi. Penelitian di bidang konservasi satwa liar termasuk kedalam penelitian yang memerlukan sumber daya yang tinggi mulai dari biaya yang besar, waktu yang lama dan kompetensi yang tinggi. Sempat berpikir untuk pindah ke bidang lain karena hal tersebut. Namun, ketika saya diposisi itu, tiba-tiba saya menerima pesan di group WhatsApp dari salah satu dosen bahwa ada NGO yang bergerak di bidang konservasi dan sedang mengadakan penerimaan penelitian mahasiswa, NGO tersebut adalah YIARI. Saya sudah mengenal YIARI sebelumnya, bahkan saya juga pernah mengundang salah satu orang hebat di YIARI yaitu Mas Robihotul Huda dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan oleh FORESTA ITERA. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meyakinkan diri saya untuk mengajukan diri melakukan penelitian bersama YIARI Ketapang.

Perjalanan Irfan Fauzi menuju Camp Punggur Rawan bersama tim YIARI (Dok: Istimewa)

Perjalanan saya bersama YIARI dimulai pada bulan November 2023. Pada dua bulan pertama (November – Desember 2023) saya menjalani kegiatan magang untuk mengenal lebih jauh tentang YIARI, belajar tentang materi sesuai topik yang saya ambil dan survey lapangan untuk menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Intinya dua bulan tersebut di berikan untuk persiapan penelitian saya agar diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Magang selesai pada pertengahan januari, kemudian penelitianpun di mulai. Saya diarahkan untuk penelitian di hutan desa pematang gadung (HDGP) dengan topik yang saya ambil yaitu tentang mamalia kecil dengan judul “Keanekaragaman Jenis Ordo Scandentia, Rodentia dan Chiroptera di Hutan Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat”.

Selama melakukan penelitian di Hutan Desa Pematang Gadung bersama dengan tim Biodiv banyak pengalaman menarik yang saya alami. Saat di HDGP saya tinggal di camp punggur rawan, camp yang menurut saya adalah keajaiban meskipun camp tersebut ketika musim penghujan, kita tidak akan menemukan daratan di sekelilingnya. Camp punggurawan berada sekitar 1 jam perjalanan menggunakan speedboat dari pelabuhan desa pematang gadung. Posisinya berada sekitar 200 meter dari sungai besar, dibangun diatas air, hanya musim kemarau camp tersebut memiliki dataran disekelilingnya. Ya benar-benar ajaib bagi saya yang sudah cukup sering ke hutan. Kenapa tidak? Hanya disini saya bisa mendapatkan akses internet yang kencang dalam hutan, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dengan pembimbing tugas akhir saya. Selain itu saya juga bisa mendapatkan energi listrik yang cukup baik siang maupun malam, karena di camp Punggur rawan energi listriknya tidak pernah terputus (24 jam). Kemudian dari segi logistik, hanya disini juga saya bisa merasakan minum es teh manis dalam hutan, bagi saya ini adalah salahsatu keajaiban. YIARI memang sangat mengerti terhadap karyawan-karyawannya dengan fasilitas terbaik yang sudah diberikan.

“Penghuni” Camp Punggur Rawan setelah melakukan observasi di lapangan (Dok: Istimewa)

Topik yang saya ambil dalam penelitian ini mengharuskan kami untuk melakukan flying camp. Jangan tanya soal fasilitas, sudah pasti sangat memadai meskipun kegiatan ini jarang di lakukan oleh tim biodiv itu sendiri. Kegiatan flying camp ini benar-benar untuk memenuhi penelitian saya. Saya sangat terbantu banget penelitian bersama dengan YIARI. Selama pengambilan data saya dibantu oleh Tim patroli dan Tim biodiv yang isinya adalah orang-orang baik dan tulus dalam membantu penelitian saya. Banyak hal menarik yang saya alami ketika pengambilan data di hutan desa pematang gadung salahsatunya dalah dari segi medannya. Hutan desa pematang gadung didominasi oleh area gambut yang ketika berjalan rasanya ingin melepas sepatu dan memberikannya ke gambut, soalnya beberapa meter berjalan gambut selalu menahan sepatu saya. Namun hal tersebut terbayarkan dengan keanekaragaman satwa yang saya jumpai. Saya banyak berjumpa dengan satwa-satwa eksotis. Saya bertemu dengan orangutan, bekantan, monyet ekor panjang, burung rangkong, kucing kepala datar, beberapa jenis ular, burung dan terakhir saya bertemu dengan si pemburu bermata bola. Ya saya berjumpa dengan Tarsius, salahsatu yang membuat saya sedikit sombong dengan kawan-kawan saya. Kenapa tidak sombong, berjumpa dengan tarsius liar itu salahsatu anugerah, bagi kawan-kawan konservasi pasti tau alasannya. Perasaan cape, malas, jenuh itu terbayarkan oleh keanekaragaman satwa yang saya temui. Pokoknya seru dan banyak yang bisa saya dapatkan ketika magang bersama dengan YIARI, tidak dapat saya ceritakan satu persatu Intinya sangat-sangat-sangat memuaskan.

Kisah Magang Farros Daffa Churrifian

Saya Farros Daffa Churrifian, mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kurang lebih satu tahun lalu saya mencari informasi tempat magang di bidang konservasi yang sekaligus bisa melakukan penelitian. Namun salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah pesan yang berisi:

“Yang berminat magang dan riset terkait konservasi di areal Gambut/Hutan Desa di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan YIARI Ketapang silakan hubungi saya. Posisi magang dan penelitian terbuka untuk 2 orang.”

Tawaran yang menggiurkan dari Pak Muhajir, dosen saya, untuk bergabung dalam program magang dan penelitian di YIARI Ketapang menjadi awal dari sebuah petualangan yang penuh makna. Dengan fokus pada konservasi di areal gambut dan hutan desa di Ketapang, Kalimantan Barat, tawaran ini tidak hanya menjanjikan pengetahuan akademis, tetapi juga pengalaman lapangan yang tak terlupakan. Setelah menerima tawaran tersebut, saya merasakan antusiasme dan ketertarikan yang besar. Pertemuan dengan Pak Muhajir membuat saya semakin yakin bahwa langkah ini akan memberi dampak besar pada pengembangan pribadi saya di bidang konservasi satwa liar.

Untuk mengarungi hutan gambut, kami menggunakan speed boat supaya jarak yang ditempuh bisa lebih jauh (Dok: Istimewa)

Ketika tiba di kantor YIARI, saya disambut dengan hangat oleh tim yang ramah dan penuh semangat. Mereka seperti membuka pintu untuk kami sebagai anggota baru keluarga YIARI. Melihat kemegahan YIARI Ketapang secara langsung, dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, membuat saya semakin yakin bahwa saya telah membuat keputusan yang tepat.

Di lingkungan kerja yang hangat ini, saya bertemu dengan para mentor di Divisi Biodiversity seperti Bang Kenned, Bang Busran, dan Bang Lo’o. Mereka bukan hanya berbagi pengetahuan tentang pengolahan data di kantor, tetapi juga membimbing kami tentang kehidupan di lapangan. Dari mereka, saya tidak hanya belajar tentang aspek teknis pekerjaan, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang pentingnya keterlibatan aktif dalam konservasi alam.
Salah satu momen puncak dalam perjalanan ini adalah ketika berada di Camp Punggur Rawan Hutan Desa Pematang Gadung. Camp ini terletak di atas sungai, menyajikan pengalaman yang unik dan mengesankan bagi kami sebagai peserta magang. Fasilitas yang disediakan tidak hanya memenuhi kebutuhan kami, tetapi juga menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman di tengah lingkungan yang alami dan indah.

Ketika observasi, kami menyempatkan diri untuk beristirahat (Dok: Istimewa)

Meskipun medan lapangan yang kami hadapi adalah gambut yang terasa berat, tim lapangan YIARI, terutama Bang Yoyo dan Bang Ujang, senantiasa memberikan dukungan dan bimbingan yang sangat membangun. Mereka tidak hanya mengajar kami keterampilan teknis yang diperlukan di lapangan, tetapi juga memperkuat semangat dan tekad kami untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan.

Selama berada di YIARI, saya mempelajari berbagai kegiatan seperti identifikasi satwa dan penggunaan kamera jebak, serta melakukan sensus satwa dan pengolahan data. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan praktis saya, tetapi juga mengubah pandangan saya tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan memperhatikan ekosistem alam.

Kegiatan yang dilakukan selain belajar bersama tim Biodiversity YIARI, saya juga melakukan penelitian. Penelitian saya mengenai Preferensi Habitat Felidae menjadi tantangan yang nyata. Menghadapi medan yang berat untuk mencapai kamera jebak di setiap lokasi membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Meskipun terkadang terasa melelahkan, setiap langkah yang kami ambil di lapangan membawa kami lebih dekat pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan di alam liar dan ekosistem yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut, seringkali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Jika mengalami hambatan, saya akan beristirahat sejenak agar membuka kembali pikiran saya dan melanjutkan apa yang saya kerjakan.

Namun, di tengah hambatan yang saya alami, saya juga mendapat bantuan dan arahan yang sangat berarti dari Bang Kenned dan Mbak Nova dari tim YIARI. Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing saya melalui setiap langkah analisis, mulai dari pemrosesan data hingga interpretasi hasil.

Kegiatan magang dan penelitian diakhiri dengan presentasi (Dok: Istimewa)


Dengan belajar bersama mereka, saya mulai memahami lebih dalam tentang logika dan metodologi di balik analisis data. Mereka tidak hanya mengajari saya cara menggunakan RStudio dengan efektif, tetapi juga memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana menerapkan berbagai teknik analisis sesuai dengan konteks penelitian. Melalui bimbingan mereka, saya berhasil menyelesaikan analisis data dan akhirnya sampai pada hasil yang signifikan.

Dalam perjalanan magang dan penelitian di YIARI Ketapang, saya telah dibimbing dengan penuh kesabaran dan semangat oleh tim yang luar biasa. Setiap tantangan dan hambatan yang saya hadapi telah menjadi pembelajaran berharga, dan saya merasa bertumbuh baik secara pribadi maupun profesional. Pengalaman ini tidak hanya memberi saya pengetahuan dan keterampilan yang berharga, tetapi juga menginspirasi saya untuk terus terlibat secara aktif di bidang konservasi satwa liar. Terima kasih kepada tim YIARI, atas dukungan, bimbingan, dan inspirasi yang diberikan. Pengalaman ini akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

7
Apr 1, 2024

Perlu Diketahui! 7 Jenis Plastik ini Sering Kita Pakai 

Sobat #KonservasYIARI pada mulanya plastik diciptakan manusia sebagai pengganti paper bag, loh! Seiring berjalannya waktu plastik diproduksi secara besar-besaran.  Tidak hanya itu, kini plastik sudah menjadi pencemar lingkungan seperti kemasan plastik sekali...

Artikel Terkait