Sering Tertukar, Satwa Berbisa atau Satwa Beracun?

29 Mar 2022
Admin YIARI

Sering Tertukar, Satwa Berbisa atau Satwa Beracun?

oleh | Mar 29, 2022

Emangnya beda, ya?

Sebenarnya berbisa dan beracun adalah dua hal yang berbeda, lho! Bisa diartikan sebagai zat beracun yang diproduksi oleh tubuh dan disuntikkan oleh bagian tubuh tertentu, seperti gigi, taring, dan sengat. Sementara itu, racun diartikan sebagai toksin biologis yang terdapat dalam suatu bagian tubuh.

Jadi, dapat disimpulkan kalau bisa adalah racun yang disalurkan dengan perantara, sedangkan racun adalah zat yang dikeluarkan secara pasif.

Bisa dimiliki oleh satwa berbisa sebagai bentuk pertahanan diri atau sebagai cara untuk mendapatkan mangsa. Sementara itu pada satwa beracun, racun hanya digunakan sebagai bentuk pertahanan diri. Satwa memiliki cara yang berbeda-beda untuk menyalurkan bisa dan menyimpan racun pada tubuhnya.

Viper Hijau (Trimeresurus albolabris, White-lipped pit viper (female) – Kaeng Krachan National Park by Rushen (CC-BY-SA 2.0))

Satwa berbisa contohnya seperti ular, komodo, tawon, dan kalajengking. Bisa ular disalurkan melalui taring dan tersusun dari neurotoksin yang merusak sistem saraf dan atau hemotoksin yang merusak jaringan darah. Sedangkan pada lebah dan tawon, mereka menyalurkan bisa melalui sengat dari ujung abdomennya yang mengandung melittin (Sumarto dan Koneri 2016). Selain itu, bisa juga dapat disalurkan melalui bagian tubuh lain yang dimiliki seperti gigi dan duri.

Poison Dart Frog (Ranitomeya amazonica by V2 (CC-BY-SA 3.0))

Sementara itu pada contoh hewan beracun, yakni katak dan ikan buntal, mereka menyimpan racun mereka pada bagian tubuh seperti kulit dan duri. Racun ini akan menimbulkan dampak negatif pada pemangsa atau objek pengganggu, seperti gejala keracunan, sakit, bahkan hingga kematian. Dampak negatif ini akan memberikan efek jera pada pemangsa atau objek pengganggu sehingga mereka tidak mendekati satwa beracun tersebut lagi.

 

By the way, primata ada nggak sih yang berbisa atau beracun?

Ada dong! Kaget gak? Pasti nggak kepikiran kan?

 

Kukang (Nycticebus sp.) adalah satu-satunya satwa primata yang memiliki bentuk pertahanan diri berupa bisa. Caranya juga unik banget! Bisa yang disalurkan oleh gigi kukang nggak diproduksi langsung di mulutnya, melainkan dari lengannya! Bisa ini diproduksi oleh kelenjar brakialis.

Menurut penelitian Ankel-Simons pada tahun 2007, kelenjar brakialis dimiliki kukang di bagian siku tangan. Sebagai sistem pertahanan diri, kelenjar ini akan melakukan sekresi bisa ketika kukang merasa terancam. Ancaman yang memicu perilaku ini dapat berupa kehadiran satwa lain atau manusia. Hasil sekresi dari kelenjar brakialis tersebut lah yang dikatakan berbahaya apabila telah bercampur dengan saliva kukang.

Foto: Reza Septian | IAR Indonesia

Bisa ini kemudian menempel pada mulut dan gigi kukang saat kukang melakukan grooming (membersihkan diri). Pada keadaan dimana kukang merasa terancam, kukang juga akan mengangkat lengannya dengan sengaja dan menjilat-jilat bagian lengannya untuk mengumpulkan bisa pada rongga mulutnya. Nah, baru deh, kukang akan menggigit objek ancaman dengan giginya yang sudah penuh dengan bisa!

Jangan main-main, lho! Digigit oleh kukang nggak hanya sakit, tapi juga menimbulkan efek samping yang bikin ngeri. Gigitan kukang dapat menyebabkan luka, pembengkakan, kejang, alergi, demam, ruam, gatal, penurunan tekanan darah, pingsan, bahkan kematian!

 

Waduh hahaha.. Padahal kukang kelihatannya gemas dan lucu ya..

 

Alfatheya Diva

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait