Relung Primata di Masa Kini: Penyelamatan dan Pelestarian

26 Des 2022
Admin YIARI

Relung Primata di Masa Kini: Penyelamatan dan Pelestarian

oleh | Des 26, 2022

Indonesia memiliki hutan yang menyimpan kekayaan ragam primata endemik alias hanya terdapat di Indonesia saja. Jumlahnya saat ini mencapai 59 spesies dari 11 genus primata. Sementara itu, dari segi jumlah, keanekaragaman primata Indonesia menempati urutan tertinggi ketiga setelah Brazil dan Madagaskar.

“Jenis primata yang ada di Indonesia tersebar di empat pulau besar, yaitu Sumatra (memiliki 24 spesies, termasuk primata Kepulauan Mentawai sebanyak 4 spesies), Kalimantan (14 spesies), Sulawesi (16 spesies), serta Jawa dan Bali (5 spesies). Sementara itu, Papua dan Kepulauan Maluku tidak memiliki satwa primata.” dikutip dari Tirto id

Meskipun kaya akan jenis primata di Indonesia, kini banyak primata yang terancam punah akibat semakin berkurangnya habitat mereka dan maraknya perburuan liar untuk dipelihara secara ilegal ataupun diperdagangkan. Apabila kondisi semacam ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan mengakibatkan kelangkaan hingga kepunahan sumber daya hayati di Indonesia, dan tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mengkategorikan sebagian besar spesies primata Indonesia berstatus kritis, terancam, dan rentan. Sementara menurut Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES), status primata Indonesia saat ini berada pada Apendix I dan Apendix II. Yang mana Apendix I merupakan kategori spesies terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan, sementara Apendix II berpeluang punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa pengaturan. Ancaman yang mempengaruhi status keselamatan dan kelestarian primata ini dibahas dalam “Relung Primata di Masa Kini : Penyelamatan dan Pelestarian” yang merupakan judul dalam webinar Primates Week, yang berlangsung pada 3 September 2022. Dalam acara webinar ini, dihadirkan pembicara hebat dan kompeten, dari berbagai Yayasan yang berfokus dibidang penyelamatan dan pelestarian satwa. Pembicara tersebut adalah Fauzia Yudanti, administrator dan asisten dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA), Nur Aoliya, S. Si yang merupakan Vinance Manager dari Yayasan swaraOwa serta drh. Ida Junyati Masnur dari Aspinall Foundation.

Pemaparan materi oleh Fauzia Yudanti dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Fauzia Yudanti menjelaskan mengenai “Penyelamatan dan Pelestarian dengan Research Berkelanjutan”. Riset ini dilakukan di Hutan Citalahab, Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang termasuk hutan submountain, dan dikenal sebagai salah satu pelabuhan terakhir dan juga rumah bagi banyak spesies yang terancam punah, seperti Surili, owa jawa, dan lain – lainnya. Hutan Citalahab ini berbatasan langsung dengan perkebunan dan pemukiman masyarakat sehingga dapat menjadi potensi ancaman dan memberikan tekanan terhadap primata yang ada di Citalahab.

“Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 kelompok owa jawa, karena tidak memiliki jumlah pasti untuk perhitungan jumlah individu, dikarenakan fokus penelitian nya lebih terkait ke perilaku untuk mendapatkan data – data demografis. Hal ini menjadi alasan mengapa penelitian ini dilakukan secara jangka panjang. Karena demografi ini adalah informasi yang sangat mendasar akan tetapi biasanya informasi – informasi terkait demografi satwa liar seringkali tidak tersedia. Sehingga kami bertujuan untuk memberikan wawasan baru mengenai owa Jawa yang kian terancam punah.” Ujarnya.

Penelitian ini dilakukan dengan 3 kegiatan, yaitu : Monitoring perilaku harian owa Jawa menggunakan metode Focal sampling dengan interval 10 menit, dari pagi hingga mereka kembali tidur. selain itu, dicatat juga titik koordinat dari pohon yang digunakan untuk mereka beraktivitas, seperti makan, beristirahat, dan lain – lainnya. Kemudian, untuk menilai bagaimana kondisi hutan sebagai habitat Owa Jawa, dilakukan pengumpulan data lingkungan (suhu dan curah hujan) serta pengumpulan data fenologi dari tumbuhan pakannya. Dimana kegiatan penelitian ini melibatkan masyarakat secara langsung dengan tujuan untuk menjembatani antara peneliti dengan masyarakat, dengan harapan agar masyarakat sekitar dapat menjadi agen konservasi untuk menyebarluaskan informasi terkait penelitian yang dilakukan. “Dari hasil penelitian yang dilakukan, terkait wilayah jelajah atau home range dari Owa Jawa, dari 3 kelompok kita bisa mengetahui bahwa rata – rata Owa Jawa yang ada di hutan Citalahab memiliki wilayah jelajah sekitar 32 hektar. Luasan ini cukup rendah dikarenakan hutan Citalahab ini termasuk ke dalam hutan submountain. Kemudian, hasilnya dibandingkan selama kurun waktu 5 tahun (dari tahun 2015 – 2020), bisa dilihat home range nya agak berubah namun cukup stabil di setiap kelompoknya. Riset spesies itu memang penting, akan tetapi kita juga harus mengkorelasikan antara riset spesies dengan habitatnya sendiri. Karena kualitas hutan yang akan menentukan masa hidup Owa Jawa dan satwa liar lainnya. Misalnya dengan melihat pola persebaran biji oleh Owa Jawa melalui fesesnya. Lalu, karena pakan adalah hal yang penting bagi kondisi kelangsungan hidup Owa Jawa, penelitian fitokimia pakan pun dilakukan untuk mengetahui kandungan yang ada di setiap pakannya.” ujarnya menambahkan.

Pemaparan materi oleh Nur Aoliya, S.Si dari Yayasan SwaraOwa (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Selanjutnya, Dalam pemaparan materi dari Nur Aoliya, S.Si, ia menjelaskan mengenai “Pelestarian Hutan Konservasi dalam Lingkungan Masyarakat”, dimana materi ini membahas tentang hutan konservasi, ancaman hutan konservasi, etika konservasi, kebutuhan manusia (aktualisasi diri, penghargaan, sosial, rasa aman, fisiologis), serta dua program konservasi primata dan masyarakat versi Yayasan swaraOwa. Beliau menjelaskan solusi Konservasi yang dilakukan oleh Yayasan swaraOwa dalam mengakhiri permasalahan masyarakat dengan primata disekitar, yaitu dengan memberikan edukasi bertahap dan melalui pelatihan mengolah sumberdaya kopi yang ada di wilayah tersebut serta pembukaan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar untuk mengurangi perburuan dan penangkapan primata. “Dengan adanya produk owa kopi ini diharapkan masyarakat mempunyai pendapatan yang lebih dari kopi jadi mereka tidak lagi memburu dan merusak hutan” ujar Nur Aoliya.

Pemaparan materi oleh drh. Ida Junyati Masnur dari Aspinall Foundation (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Selanjutnya, dalam pemaparan materi dari drh. Ida Junyati Masnur, beliau menjelaskan mengenai “Rehabilitasi Primata”. Dimana materi ini mencakup penjelasan singkat primata termasuk taksonomi dan ancaman, proses rehabilitasi, pemeriksaan kesehatan primata tersebut, perubahan perilaku dan pakan.

drh. Ida menyebutkan bahwa “Satwa yang direhabilitasi biasanya berasal dari penyitaan, penyelamatan oleh institusi yang berwenang seperti BKSDA, serta dari repatriasi”. Perlu diketahui juga, ternyata tidak semua primata hasil rehabilitasi bisa dilepasliarkan. Hal tersebut dikarenakan primata terdapat sakit (herpes virus, TBC) dan/atau cacat fisik tidak dapat dilepasliarkan langsung karena nantinya dapat menularkannya kepada spesies lain sehingga dapat mengganggu aktifitas primata.

Untuk itulah dari acara webinar ini, kami menghimbau berbagai pihak terutama masyarakat Indonesia dalam pelaksanaannya diharapkan dapat membuka serta meningkatkan wawasan masyarakat terhadap dunia konservasi primata dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya pelestarian primata. Karena primata merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sehingga dapat menunjang kehidupan manusia. Peran primata bagi keseimbangan ekosistem hutan diantaranya adalah sebagai pemencar biji vegetasi hutan, mediator penyerbukan, dan penambah volume humus untuk kesuburan tanah. Apabila kondisi yang mengancam primata semakin besar, maka jika hal semacam ini dibiarkan secara terus menerus, akan mengakibatkan kelangkaan hingga kepunahan sumber daya hayati di Indonesia, dan tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.

Primates Week yang merupakan sebuah program dibentuk oleh Kelompok Pengamat Primata (KPP) Tarsius UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tujuan sebagai wadah untuk menampung ide-ide kreatif serta inovatif dalam menangani isu-isu yang berkenaan dengan primata serta menjadi roda estafet dalam upaya konservasi primata.

Masih terdapat banyak sekali insight yang dapat dipetik dari acara webinar kemarin, akan tetapi, alangkah baiknya kalian menonton tayangan ulangnya di channel YouTube KPP Tarsius UIN Jakarta pada link berikut ini :

https://youtu.be/b-LfL3kQqP0

Yuk, kita dukung segala upaya untuk menjaga keselamatan dan kelestarian primata di Indonesia agar eksistensi nya tetap terjaga hingga masa mendatang.

Dukung juga satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Wanda Sopiah

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait