Konten Pemelihara Monyet di Youtube Meningkat Selama Pandemi

8 Mar 2021
Reza Septian

Konten Pemelihara Monyet di Youtube Meningkat Selama Pandemi

oleh | Mar 8, 2021

Video yang memperlihatkan aktivitas pemeliharaan primata jenis monyet ekor panjang masih mudah dijumpai di internet. Di Youtube, data terkini menunjukkan konten-konten negatif tersebut meningkat tajam selama pandemi. Tidak kurang dari 334 video monyet ekor panjang telah diunggah oleh 204 saluran di Youtube hingga akhir 2020.

 

Ismail Agung, Campaign Manager IAR Indonesia mengungkapkan, temuan ini meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 180-an unggahan video. Berdasarkan hasil pantauan, peningkatan jumlah unggahan konten dimulai pada Februari 2020 dan peningkatan paling signifikan terjadi pada Oktober 2020.

Perbandingan jumlah channel dan konten tiap tahunnya antara 2018 hingga 2020 yang memuat konten kekerasan pada monyet.

 

“Konten-konten video yang kami kumpulkan dikategorikan ke dalam dua kategori utama yaitu video yang mencitrakan monyet dengan kehidupan liar dan video yang mencitrakan monyet dalam penanganan manusia. Dari kedua kategori tersebut, kami menempatkan kembali konten-konten video berdasarkan sub kategori seperti dokumenter, berita, kebun binatang, peliharaan, perdagangan, penyelamatan hingga topeng monyet,” papar Ismail Agung, di Bogor, Jawa Barat.

 

Hasil dari pembagian kategori konten tersebut, monyet sebagai peliharaan jauh mendominasi dibandingkan konten yang bersifat positif dan mendukung upaya konservasi. Bahkan pertumbuhannya meningkat drastis sepanjang 2020. Kategori monyet sebagai peliharaan bisa dilihat dari bagaimana interaksi antara manusia dan monyet yang ada di dalam video.

Kategori konten yang teramati pada Youtube. Konten memelihara monyet sangat mendominasi.

 

“Tren pemeliharaan itu kini semakin marak diperlihatkan dan dibagikan melalui Youtube. Jika diakumulasikan lebih lanjut, dalam rentang 2018 hingga 2020 pertumbuhan konten video dan channel pengunggah meningkat lebih dari 200 persen. Jumlah temuan itu bahkan disinyalir bisa lebih banyak, karena pengambilan data baru dilakukan dengan menggunakan kata kunci ‘monyet’ pada kolom pencarian di Youtube,” jelasnya.

Agung melanjutkan, jika melihat hubungan antara jumlah unggahan konten dengan situasi yang terjadi, pandemi yang mulai dirasakan di Indonesia sejak Februari berimbas pada penurunan konten video monyet. Hal ini bisa disebabkan karena perhatian masyarakat yang teralihkan pada situasi pandemi. Namun pada Mei, angka unggahan seperti melanjutkan tren yang terjadi di Desember, dan fluktuatif setelahnya dengan jumlah di atas 20 konten per bulan.

 

“Di tengah statusnya yang tidak dilindungi, alasan itu kerap disalahartikan sebagai izin untuk mengeksploitasi baik dalam bentuk jual beli dan pemeliharaan. Kenyataan pahit ini juga  menjadi ancaman dan eksploitasi bagi kehidupan monyet ekor panjang di alam,” tambahnya.

 

Pengaruh influencer

 

Kembali ramainya konten pemeliharaan pada Mei 2020, bukan hanya disebabkan perhatian masyarakat yang mulai berkurang akibat pandemi. Selama kurun waktu Februari-April 2020, isu monyet peliharaan dipengaruhi oleh sejumlah influencer yang membagikan konten monyet peliharaannya.

Dinamika peningkatan konten dan channel yang mengangkat monyet pada Youtube.

 

Influencer menurut Agung, jelas memberikan pengaruh terhadap persepsi publik. Ketika monyet dilumrahkan sebagai objek peliharaan, tidak menutup kemungkinan akan banyak pengikut melakukan hal yang sama dan berdalih dengan alasan yang serupa.

 

Di satu sisi, meski kanal berbagi video itu memfasilitasi pelaporan terkait konten yang bersifat penyiksaan satwa. Namun fasilitas pelaporan tersebut hanya ada jika menonton Youtube melalui browser komputer. Mengingat jumlah pengguna unik Youtube di Indonesia yang mencapai 83% pengguna mobile, seharusnya fitur ini tersedia di berbagai perangkat.

 

Temuan lainnya, usia monyet peliharaan yang ditampilkan dalam video memang beragam, akan tetapi sebanyak 93% konten monyet peliharan adalah bayi tanpa induk. Bayi-bayi monyet memang menarik untuk diperlihatkan. Tingkah laku mereka yang lucu dan menggemaskan (serta dianggap jinak), sangat berbeda sekali dengan monyet dewasa yang cenderung agresif atau tak lucu lagi. Monyet dewasa pada video seringkali ditunjukkan dengan kondisi terikat rantai dan dalam kandang yang sempit.

Usia monyet yang tampil dalam konten kekerasan monyet.

 

“Dengan banyaknya jumlah bayi monyet yang dijadikan konten, tentu patut dipertanyakan dari mana monyet tersebut berasal, bagaimana cara mendapatkannya, dan apa yang terjadi pada induknya,” lanjut Agung.

 

Siapa yang paling diuntungkan dari maraknya konten-konten pemeliharaan monyet seperti ini. Tak lain pemburu dan pedagang ilegal. Kehadiran konten pemeliharaan monyet akan mendorong minat masyarakat untuk ikut-ikutan mencoba dan membeli. Pada akhirnya, permintaan akan monyet akan mendorong pemburu untuk mengambil lebih banyak monyet dari alam. Pedagang akan menyediakan stok monyet di kandang-kandang sempit dan kotor, agar calon pemelihara merasa iba dan membawanya pulang. Bagikan fakta ini agar semakin banyak primata manusia yang tercerahkan.

 

Tentang monyet ekor panjang

 

Monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis keberadaannya mudah dijumpai di hutan-hutan pesisir (mangrove, hutan pantai), hutan di sepanjang sungai, hutan yang berbatasan dengan kebun hingga pemukiman. Monyet ekor panjang (MEP) merupakan salah satu jenis primata yang hidup berkelompok (grouping) dan adaptif dengan perubahan lingkungan sekitar. Di alam, mereka umumnya memakan pelbagai jenis buah, biji-bijian hingga memangsa hewan kecil seperti serangga.

 

Monyet ekor panjang juga biasa disebut monyet pantai (monpai) merupakan salah satu jenis monyet yang paling banyak ditemukan di seluruh kawasan nusantara. Sebaran habitat alami primata asli Indonesia ini tersebar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga kepulauan di Bali dan Nusa Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, monpai juga ditemukan di tanah Papua sebagai spesies invasif yang dibawa oleh pendatang dari luar pulau.

 

Data: kukangku.id

Foto: Risanti

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait