In Memoriam Hayang dan Lailasari: Dua Kukang Tertua di Pusat Rehabilitasi Kami

19 Apr 2023
Admin YIARI

In Memoriam Hayang dan Lailasari: Dua Kukang Tertua di Pusat Rehabilitasi Kami

oleh | Apr 19, 2023

Sobat #KonservasYIARI kali ini kami mau cerita tentang dua kukang senior di pusat rehabilitasi kami yang berada di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Kenapa perlu kami ceritakan? Pasti kalian bertanya-tanya kan? Ini karena kami berharap, tidak ada lagi kisah-kisah sedih kukang yang tak bisa lagi kembali pulang ke habitat alaminya karena kasus pemeliharaan dan kisah sedih lainnya yang pernah mereka alami, sehingga ending-nya mereka menghabiskan sisa hidupnya di pusat rehabilitasi.

Pada 6 September 2008, pusat rehabilitasi kami kedatangan kukang sumatera (Nycticebus coucang) betina bernama Hayang. Ia spesial karena merupakan kukang pertama yang dirawat di pusat rehabilitasi kami di Ciapus.  Ia merupakan kukang serahan masyarakat dari PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Tegal Alur yang berhasil diselamatkan dari perdagangan satwa liar, dan kemudian dititiprawatkan di pusat rehabilitasi YIARI.

Hayang ketika baru sampai ke pusat rehabilitasi pada September 2008 (Tim Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)

Hayang mengalami pemotongan gigi yang masif ketika masih di tangan pedagang. Ketika sampai di pusat rehabilitasi, keadaan Hayang sangat memprihatinkan. Terdapat luka bekas gigitan di kakinya, seluruh gigi Hayang sudah terpotong dan terjadi infeksi parah di gusinya hingga mengeluarkan nanah dan ia hampir tidak bisa makan. Dokter di pusat rehabilitasi kami kemudian perlu mencabut gigi tersebut agar tidak terjadi infeksi yang lebih parah lagi. Sayangnya, jumlah gigi Hayang yang tertinggal tidak cukup untuk digunakan bertahan hidup di alam liar. Kehidupan Hayang pun terbatas hanya di kandang rehabilitasi. Meskipun datang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, ternyata Hayang mampu  bertahan hidup lama. Hingga 13 Februari 2023, setelah tinggal selama kurang-lebih 15 tahun di pusat rehabilitasi, Hayang dipanggil Tuhan. Sedih banget rasanya.

Setelah kepergian Hayang, Lailasari, atau biasa kami panggil Laila, yang merupakan salah satu kukang sumatera (Nycticebus coucang) senior atau tertua di pusat rehabilitasi juga menyusul kepergian Hayang pada tanggal 22 April 2023 lalu. Makin sedih deh😢.

Laila dirawat di pusat rehabilitasi sejak sejak Juni 2010 di usia remaja yaitu ketika usianya 2 tahun. Kurang-lebih hingga kematiannya, Laila telah dirawat selama 13 tahun oleh para dokter hewan dan perawat satwa kami di pusat rehabilitasi. Wah, kok lama banget ya 13 tahun? Sedangkan, bukannya rata-rata perawatan kukang sebelum dilepasliarkan itu adalah satu tahun? Ternyata, Laila harus tinggal dan menetap di pusat rehabilitasi karena kondisinya nih sobat #KonservasYIARI. Laila dulu mulai masuk ke pusat rehabilitasi dengan keadaan gigi yang sudah habis dipotong, sehingga dinilai tidak bisa untuk dilepasliarkan. Meski begitu, ia tetap kami rawat dan rehabilitasi dengan maksimal hingga ajalnya menjemput.

Selama tinggal di kandang, kondisi tubuh Laila sempat tergolong cenderung kegemukan, namun berkat adanya pengontrolan diet pakan, beratnya berangsur-angsur mulai ideal. Setiap minggu pun Laila kami periksa kondisi tubuhnya. Laila juga diberikan pakan pengayaan (enrichment) seperti madu, adonan getah, kakao,  serangga, juga beberapa buah-buahan hutan lainnya yang diletakkan dalam berbagai macam wadah, untuk mempertahankan perilaku alaminya. Enrichment diberikan setiap harinya setelah pemberian pakan yang kedua, yaitu saat menjelang jam 3 pagi. Enrichment yang diberikan akan berbeda setiap harinya sesuai dengan kalender enrichment.

Laila di kandang rehabilitasi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Seperti manusia, Laila juga punya menu favorit. Menu makanan favoritnya adalah jangkrik dan ulat sagu. Menu pengayaan favoritnya adalah ketupat berisi serangga, yang tentunya tidak hanya diberikan untuk Laila ketika bulan ramadhan atau perayaan lebaran saja hehe. Meski hanya tinggal di dalam kandang, aktivitas Laila tergolong tinggi yaitu sebanyak 99,07%. Aktivitas tersebut di antaranya ialah kegiatan forage (mencari dan mengumpulkan makan) yang mendominasi, feeding (makan), aktivitas sosial, self grooming (membersihkan diri), dan vigilance (perilaku waspada). Interaksi Laila dengan kukang lainnya tergolong baik, karena terlihat perilaku sosial seperti saling grooming dan bermain bersama. Di antara kukang lain, terlihat juga bahwa hanya Laila-lah yang perilakunya cenderung dekat dengan manusia, hal ini terjadi karena ia sudah dekat dengan manusia sejak muda.

Meskipun Laila sempat menjadi hewan peliharaan, selama di pusat rehabilitasi, Laila menunjukkan perilaku normal yang baik, yaitu perilaku yang mengarah ke sifat asli kukang. Selain itu, perilaku pakan untuk usianya pun tergolong baik. Kecuali pada beberapa tahun terakhir, Laila menunjukkan tanda penyakit degeneratif karena usianya. Selama beberapa tahun kebelakang, Laila pun rutin diberi vitamin setiap minggu untuk menunjang nutrisinya.

Pada 7 April 2023, Laila harus dirawat di klinik karena terlihat kurang aktif dan berkurangnya nafsu makan. Kemudian setelah pemeriksaan lebih lanjut, terlihat pada perutnya terdapat cairan yang menunjukkan terdapat kegagalan organ pada tubuh Laila. Setelah di nekropsi pada pagi harinya langsung setelah kematian, terlihat pada rongga tubuh Laila terdapat tumor yang telah menyebar ke berbagai organ tubuh Laila dan tergolong cukup parah.

Walaupun Hayang dan Laila datang ke pusat rehabilitasi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan, ternyata mereka masih memiliki semangat untuk hidup yang tinggi. Dibantu dengan perawatan penuh dan kasih sayang dari para perawat satwa dan dokter hewan, mereka mampu bertahan sampai belasan tahun kemudian, luar biasa ya! Begitulah Sobat YIARI cerita dari Hayang dan Laila. harapannya semoga tidak ada lagi kukang seperti mereka ya, yang harus menua di kandang, bukan di habitat sesungguhnya yaitu di alam.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

Artikel Terkait