Ancaman Malaria Bagi Populasi Orangutan

16 Nov 2022
Ria Utari

Ancaman Malaria Bagi Populasi Orangutan

oleh | Nov 16, 2022

Kita semua pastinya sudah tahu kan kalau orangutan itu kesamaan DNA-nya dengan manusia sampai 97 persen? Nah kesamaan ini jadi bikin orangutan banyak memiliki sifat-sifat seperti kita, Sobat IAR. Termasuk penyakit yang diderita manusia, bisa juga diderita oleh orangutan. Nah, ini yang sering luput dari perhatian masyarakat umum, bahkan di kalangan peneliti sekalipun. Karena itulah, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) di sela-sela pekerjaan kami menyelamatkan dan merehabilitasi satwa, para dokter hewan kami juga menyempatkan diri melakukan penelitian yang diperlukan bagi komunitas ilmuwan untuk ke depannya bisa menggunakan hasil penelitian ini demi menyelamatkan satwa-satwa yang makin berkurang populasinya.

Di pengujung akhir tahun ini, kabar membanggakan datang dari tim animal management kami, yang baru saja merilis jurnal ilmiah mereka dengan judul “Plasmodium pitheci malaria in Bornean orang-utans at a rehabilitation centre in West Kalimantan, Indonesia.” Jurnal ini dipublikasikan di situs ilmiah Malaria Journal pada 3 Oktober 2022 dan bisa diakses di sini.

Penelitian dan penulisan jurnal ini dilakukan satu tim yang terdiri dari sebagian besar dokter hewan di Indonesia dan internasional. Mereka adalah Karmele Llano Sanchez, Alex D. Greenwood, Aileen Nielsen, R. Taufiq P. Nugraha, Wendi Prameswari, Andini Nurillah, Fitria Agustina, Indra Exploitasia, Gail Campbell-Smith, Anik Budhi Dharmayanthi, Rahadian Pratama, dan J. Kevin Baird.

Tim medis kami memeriksa kesehatan Kumbang, memastikannya bebas dari segala penyakit termasuk malaria (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Nah, mungkin Sobat YIARI bertanya-tanya, kenapa sih kami melakukan penelitian ini. Jadi tuh, kami sering mendapati kasus-kasus gejala mirip kalau manusia kena malaria, pada orangutan yang ada di rehabilitasi kami yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Terus, dokter hewan kami mencari-cari apakah sebelumnya sudah pernah ada penelitian di bidang ini, supaya bisa jadi acuan kami dalam menangani gejala-gejala seperti demam, lemes, nggak mau makan, dan sampai nggak responsif gitu Sob. Ternyata jarang banget tuh laporan soal ini. Lalu, kami pun tergerak untuk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi spesies Plasmodium yang menginfeksi orangutan di bawah perawatan kami, menentukan frekuensi dan karakter penyakit malaria di antara yang terinfeksi, dan menetapkan kriteria untuk diagnosis dan pengobatan yang berhasil.

Untuk meneliti ancaman malaria pada orangutan ini, tim kami mengambil sampel darah seluruh orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami dari tahun 2017 hingga 2021. Didapati 89 dari 131 orangutan yang diambil sampel darahnya, dinyatakan positif malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium pitheci. Selama periode tersebut, 14 kasus (mempengaruhi 13 orangutan) berkembang menjadi malaria klinis (0,027 serangan/orangutan-tahun). Tiga kasus lain ditemukan terjadi dari 2010-2016. Individu yang sakit memiliki gejala demam, anemia, trombositopenia, dan leukopenia.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci sangat sering menginfeksi orangutan pusat rehabilitasi kami. Pada sekitar 14% orangutan yang terinfeksi, penyakit malaria terjadi dan berkisar dari sedang hingga parah di alam. Infeksi atas malaria inilah yang mendorong kami untuk mengajak semua pihak menyadari bahwa malaria turut menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini.

Rahayu, salah satu orangutan kalimantan yang merupakan penyintas malaria yang sembuh di pusat rehabilitasi kami (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Dokter Karmele Llano Sanchez menyatakan bahwa sejauh penelitian ini dilakukan, tidak ada bukti bahwa parasit yang menjangkiti orangutan ini bisa berpindah ke manusia atau demikian juga sebaliknya, malaria yang dialami manusia akan menular ke orangutan. “Penelitian ini pada dasarnya sebuah awalan bagi para saintis untuk meneliti malaria lebih dalam lagi,” ujar Dokter Karmele.

Kondisi alam saat ini seperti perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan alam lainnya, sebenarnya menjadi salah satu pendorong banyaknya kasus-kasus kesehatan yang dialami satwa liar, di mana salah satunya epidemiologi penyakit seperti malaria. Bahkan perilaku nyamuk yang menularkan parasit malaria pun, adalah salah satu contoh bagaimana mereka merespon perubahan ini sehingga memberikan dampak bagi kesehatan satwa seperti orangutan. Di sinilah menurut Dokter Karmele, dokter hewan dan para saintis, memiliki tanggung jawab untuk mulai melakukan lebih banyak penelitian tentang patogen dan penyakit satwa liar yang akan mempengaruhi pekerjaan konservasi di masa depan.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

7
Jul 4, 2024

Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!

Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan? Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera. Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan...

7
Jun 26, 2024

Hutan Mangrove, Rumah bagi Biota dan Fauna yang Mesti Dilindungi

Fungsi hutan mangrove ternyata lebih banyak daripada yang kita duga, fungsi dan perannya tidak hanya melulu menahan laju abrasi pantai. Sebab, berbagai jenis biota dan fauna menghuni kawasan ekosistem satu ini, memberi manfaat bagi lingkungan maupun untuk...

Artikel Terkait